Saturday, February 16

Separuh Jiwa...

Lelah hati ini mencari
Mencari keping demi keping kisah yang pernah terajut
Kisah berbalut asmara
Berpitakan kasih sayang...

Mungkinkah kutembus batas waktu ini
Menyihir diri tuk berada pada dimensi lain
Menghapus secercah rindu di kalbu
Mencabut kerikil dalam asa...

Kucoba menari di tengah badai
Berlari beralaskan ombak
Berputar dalam lingkup labirin
Agar aku bisa bertemu separuh jiwaku...

Tapi takdir berkata lain
Bahkan tuk menyentuh bayangmu saja aku tak sanggup
Inikah jalan yang harus kuterima?
Bermandikan sakit hati dan kepedihan?

Ingin ku berdiri di ambang batas cakrawala
Agar ku dapat mendaki langit biru
Menemuimu yang sudah sedari dulu di sana
Menyatukan lagi separuh jiwaku...

Untuk Seseorang

Hey kamu!
Sadarkah kamu, bila menunggumu itu serasa menunggu keringnya lautan?
Tahukah kamu, bila mengharapkan cintamu serasa mengharapkan hujan di tengah kemarau panjang?
Mengertikah kamu, bila memetik hatimu serasa memetik milyaran bintang di angkasa?

Tanpa peduli dingin menerkam
Panas mengutuk
Kelam menyelimuti
Aku tetap menantimu
Mengharapkan satu cinta
Yaitu kamu.

Aku berbicara pada angin, tuk sampaikan sayangku untukmu
Aku bernyanyi dalam hujan, tuk kirimkan rinduku untukmu
Aku berteriak, memohon, meminta pada alam, tuk sampaikan seluruh cintaku untukmu

Mungkin rasa tak berbalaskan rasa
Tapi biarlah...
Ku tetap menantimu
Sampai aku tak punya kesempatan...
Tuk menanti...

Kertas


"Aku hanyalah selembar kertas polos. 
Orang lain melihatku biasa.... 
Namun, di dasar kertas itu ada berbagai macam 
bekas goresan tinta yang sengaja ku hapus 
tuk menutupinya...
Tapi sekuat apapun ku menghapusnya, goresan tinta 
itu pernah ada...  
Pernah tercipta pada suatu kertas yang bernamakan 
kehidupan..."

Keindahan Sang Senja


Sang senja mengintip dari balik peraduannya
Menampakkan semburat warna jingga di cakrawala
Meletakkan permadani indah pada langit
Awan-awan menari
Tetap setia menghiasi sang langit
Himpunan burung kecil terbang beraturan
Melintasi euforia sang senja
Yang menciptakan keindahan

Tubuhku terpaku diam seribu bahasa
Menatap sang senja yang bergeming penuh arti
Sungguh indah lukisan Tuhan
Tawarkan damai penuh ketentraman

Tanpa Judul


Serasa menghapus air dalam samudera
Menunggu resapnya air
Menanti hilangnya air
Entah kapan…

Serasa menempatkan rembulan dan mentari bersamaan
Menunggu fajar dan senja bersatu
Menanti lenyapnya batas
Entah bagaimana…

Serasa mengharapkan kebahagiaan
Menunggu datangnya senyuman
Menanti hilangnya duka nestapa
Entah kapan…

Khayalan.


Kau… hanyalah sekedar khayalanku. Ya, khayalan.
Maya.
Semu.
Mimpi.
Kau… tidak seharusnya datang dalam hidupku, jika caramu seperti ini. Kau nomaden dalam hatiku, setelah itu baru kau pergi tanpa pesan apa-apa. Mencari cinta baru, mungkin.
Sudah beribu cara ku coba tuk melupakanmu. Sudah 999x9.999999 kali ku coba menghapus rasa ini. Tapi kau selalu menang. Aku gagal.
….
Inginku menjadi dokter, supaya aku bisa membedah hatimu. Mengetahui setiap detail hatimu apakah itu untuk ku atau tidak.
Atau… ijinkanlah aku menjadi guru cintamu. Agar aku bisa mengajarimu bagaimana caranya mencintaiku dengan tulus.

Sekian, terima kasih dan sama-sama.

07.

HOY 07:07! Aku tak sanggup saat harus membuangmu pergi jauh dari anganku. Kuakui aku tak bisa. Kau seperti bayangan dalam hidupku. Ada, tapi tak bisa kuraih.  Setiap hari aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan. Tanpa berani menyapamu. Tanpa berani bertatap muka denganmu…

Aku malu.
Seorang aku, yang notabennya “nothing” bisa menyukai  seorang dia.Oke aku tak mengerti, apa ini yang dinamakan suka? Atau sayang? Atau bahkan cinta? Aku bukan pakar cinta, tapi aku merasakannya sendiri jantungku berdebar hebat saat aku melihat dia mendekat ke arahku. Aku belum berani menyebut itu “cinta”, karena aku takut. Aku takut luka lama akan kembali menganga.

Tapi satu yang ku tahu.
Perasaanku tak berbalaskan. Kurasa dia menyukai seseorang lain. Dia selalu bersikap jutek padaku. Membalas singkat semua smsku.

Hey apa kau membenciku? Tapi apa salahku? Kurasa aku tak pernah membuatmu kesal…
Kenapa harus kau yang benci padaku? Kenapa bukan aku? Kenapa harus kau yang menjadi bayangan dihidupku? Kenapa bukan aku yang menjadi bayangan di hidupmu? Kenapa harus aku yang terluka? Kenapa bukan kamu? Kenapa harus aku yang menyayangimu? Kenapa bukan kamu?

Oke, sekian.